Salatiga, 26 Juli–3 Agustus 2026 — Di tengah situasi dunia yang semakin lunyai oleh disinformasi, krisis lingkungan, ketidakadilan sosial, politik identitas, dan perubahan cepat teknologi (akal imitasi), sebuah pertanyaan sederhana tetapi mendasar diajukan bersama: apakah liturgi hanya menyerimpung di dalam gereja, ataukah juga menyapa dan bergulat dalam kehidupan sehari-hari?
Pertanyaan itulah yang menjadi acuan Summer School PERSETIA 2026, “The Liturgy of Life and Spirituality,” yang diselenggarakan di Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga. Program yang dirancang selama delapan hari ini ditujukan bagi mahasiswa pascasarjana sekolah-sekolah anggota dan calon anggota Perkumpulan Sekolah-Sekolah Teologi di Indonesia. Diikuti oleh 49 mahasiswa pascasarjana.
Tema The Liturgy of Life and Spirituality, seperti yang dituliskan dalam kerangka acuan, berangkat dari kegelisahan terhadap kehidupan di era post-truth: ketika kebenaran dipertanyakan, informasi mudah dipalsukan, dan manusia semakin dibentuk oleh berbagai narasi yang beredar di ruang publik dan digital. Selain itu, sobekan-sobekan hidup yang terus dialami manusia, alam yang semakin dieksploitasi, serta sekian banyak permasalahan-permasalahan yang dihadapi manusia hingga kiwari, juga telah menjadi latar penting mengapa tema ini diangkat. Karena itu, liturgi dipahami bukan semata-mata sebagai rangkaian ibadah di dalam gereja, melainkan sebagai pola hidup yang menolong manusia mengenali kehadiran Allah, membangun komunitas, keadilan, kasih, serta kepedulian terhadap ciptaan dan keutuhan semesta.
Summer School berlangsung dengan didampingi oleh dua dosen pengampu: Pdt. Dr. Irene Umbu Lolo, M.Th., dan Pdt. T.M. Ebenheser Lalenoh, Ph.D. Secara ringkas, berikut pemaparan kedua dosen pendamping ini.
Dalam kajian The Liturgy of Life and Spirituality, Pdt. Dr. Irene Umbu Lolo, yang mendedah landasan teologi serta biblis dari liturgi kehidupan dan spiritualitas, menandaskan bahwa Allah Tritunggal sebagai fondasi liturgi kehidupan. Ia juga bersetia pada Alkitab dan tradisi, meski dalam pemaparan selanjutnya secara ajeg dan lentur, ia meletakkan dan menafsirkannya dengan situasi kiwari.
Pdt Irene, selanjutnya menandaskan bahwa seluruh aktivitas, pekerjaan, dan pengalaman sehari-hari orang Kristen dipahami sebagai perwujudan nyata dari ibadah kepada Allah. Dengan demikian, ibadah tidak boleh diserimpung dalam pengertian ritual, tetapi harus menemukan bentuknya dalam kehidupan konkret. Dalam kesempatan tersebut, memberi perhatian dan keberpihakan yang cukup serius akan pentingnya liturgi bagi umat yang mengalami kekerasan.
Selanjutnya, Lalenoh dalam pemaparannya Spiritual Formation and Ecclesial Transformation, memulai pendasarannya dari James K.A Smith yang, mengingatkan bahwa manusia bukan hanya thinking beings, tetapi juga loving beings—makhluk yang dibentuk oleh apa yang dicintai dan dirindukannya. Keinginan manusia dibentuk melalui kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang. Karena itu, tandas Lalenoh, pusat belanja dengan rupa-rupa jenamanya, media sosial, iklan, olahraga, dan berbagai praktik budaya modern dapat bekerja seperti “liturgi sekuler”: secara perlahan membentuk hati dan hasrat manusia.
Di sini konsep habitus Bourdieu menjadi penting. Manusia tidak selalu bertindak berdasarkan keputusan rasional yang disadari; tubuh dan pengalaman sosial membentuk kecenderungan tertentu yang kemudian menjadi cara spontan dalam menjalani kehidupan. Smith menggunakan kerangka ini untuk menunjukkan bahwa liturgi gereja juga membentuk manusia melalui tubuh, pengulangan, kebiasaan, dan imajinasi. Apa yang hendak tekankan Lalenoh, bahwa liturgi juga adalah soal laku-pikir yang, berkelindan dalam kompleksitas hidup sehari-hari.
Ringkasan pemaparan kedua pengajar ini, tidak lagi menempatkan liturgi bagai opisisi biner. Liturgi, sebagai teologi prima, adalah relasi antara ibadah di gereja dan juga laku-pikir dalam kehidupan sehari-hari yang, juga mendorong keterlibatan dan pergulatan dalam kompleksitas hidup sehari-hari.
Summer School PERSETIA 2026, seperti kegiatan serupa sebelumnya, tidak dirancang hanya sebagai rangkaian kuliah. Metodenya mencakup presentasi kelompok, diskusi, berbagi pengalaman, refleksi, kunjungan lapangan, serta penyusunan artikel yang didampingi oleh kedua dosen pendamping. Artikel tersebut menjadi tugas akhir yang akan dinilai, dan selanjutnya melalui proses kurasi awal sebelum nanti dikirimkan ke jurnal bereputasi.
Untuk memperoleh pengalaman langsung di luar kelas, peserta juga memperoleh pajanan dan pengalaman berkunjung ke dua komunitas yang, memiliki keprihatinan pada kerja-kerja kemanusiaan. Di Yayasan Pearl dan Balai Karya, peserta mendengar dan merasakan langsung gumul-juang dua komunitas ini dalam mendampingi sesama manusia. Pengalaman ini lalu direfleksikan bersama.
Pada akhirnya, The Liturgy of Life and Spirituality mengundang peserta dan komunitas iman melihat kembali makna pengutusan. Komunitas iman tidak berkumpul untuk melarikan diri dari dunia, tetapi juga diutus kembali ke dalam dunia. Bergulat dan bersama-sama menyebar kasih, serta memperjuangkan keadilan bagi manusia dan ciptaan lain.












Leave a Reply