PERSETIA

Perkumpulan Sekolah – sekolah Teologi di Indonesia

Konsultasi Nasional Mahasiswa Teologi di Indonesia 2026: “The Liturgy of Life and Spirituality”

Konsultasi Nasional Mahasiswa Teologi di Indonesia (KNMTI) diadakan pada 7-11 September 2026. Kali ini, yang menjadi nyonya/tuan rumah adalah Fakultas Teologi Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Mengingat bencana yang terjadi sebelum kegiatan ini, KNMTI dilaksanakan setelah host menyatakan kesiapannya.

Dalam persiapan panitia lokal yang dengan hati jembar menerima peserta, terjadilah erupsi Gunung Anak Krakatau. Dampak erupsi meruyak, akibatnya, beberapa bandara tidak bisa beroperasi. Beberapa mahasiswa akhirnya tidak bisa menghadiri kegiatan ini secara langsung. Di tengah situasi itu, KNMTI berlangsung dengan model bauran. Peserta yang bisa hadir, tetap mengikuti di tempat. Peserta yang tidak bisa hadir, mengikuti melalui zoom. Secara keseluruhan ada empat puluh lima peserta KNMTI.

Ada tiga narasumber yang dihadirkan dalam kegiatan ini. Pdt. Hani Halan La’a, M. Th., Pdt. Eirene K. Gulo, M. Th., dan Pdt. Sepriyanus Y. Adonis, S. Th.

***

Hani Halan La’a melambari percakapan awal terkait liturgi dengan perkembangan liturgi dalam sejarah gereja, dengan menunjukkan bahwa bentuk liturgi selalu dipengaruhi konteks sosial, budaya, dan teologis pada setiap zaman. Ia juga memulai pemaparannya dengan memberikan definisi liturgi. “Liturgi” kata La’a yang mengutip Rasid Rachman, “adalah perayaan iman sebagai respon umat atas panggilan Allah untuk ada dalam persekutuan bersama-Nya dan sesama yang dilakukan melalui nyanyian, pembacaan Alkitab, Mazmur-mazmur, simbol-simbol, homili, tatagerak, tata ibadah, tata ruang, tata waktu, dsb.”

Selanjutnya ia memberikan pemaparan mengenai perkembangan liturgi dari masa ke masa. Misalnya, pada gereja mula-mula, seperti yang ditandaskan oleh Hani La’a, liturgi memberi penekanan pada persekutuan, doa, pengajaran, baptisan, dan pemecahan roti. Setelah memaparkan perkembangan liturgi, Laa menutup pemaparannya dengan menyatakan bahwa memahami sejarah liturgi berarti memahami bagaimana gereja menghayati dan mengekspresikan imannya dalam berbagai konteks zaman. Perjalanan tersebut menjadi dasar bagi gereja untuk terus mengembangkan liturgi yang bermakna, kontekstual, dan tetap berakar pada iman Kristen.

Eirene Kardiani Gulo, selanjutnya, mengembangkan gagasan Liturgy of Life, dengan melihat pengalaman kehidupan sehari-hari sebagai ruang perjumpaan manusia dengan Allah. Liturgi Minggu dan liturgi kehidupan tidak dipisahkan: liturgi Minggu memperoleh maknanya ketika berhubungan dengan kehidupan nyata, sementara liturgi kehidupan memperoleh orientasi dari ibadah. Ada kesalingan.

Selanjutnya, Eirene menekankan bahwa liturgi perlu kontekstual, partisipatif, dan transformatif—merespons pergumulan konkret seperti krisis ekonomi, ekologi, dan kekerasan; melibatkan umat sebagai subjek; serta mendorong umat menjadi agen pembaruan dalam masyarakat.

Dalam materi Liturgi dan Ekologi, Eirene memperluas pembahasan pada krisis ekologis sebagai persoalan teologis. Ekoliturgi dipahami sebagai upaya mengintegrasikan kesadaran lingkungan, keadilan ekologis, dan pemeliharaan ciptaan ke dalam ibadah gereja.

Pdt. Seprianus Y. Adonis, S.Th., mengarahkan perhatian pada subjek yang sering tidak memiliki ruang dalam liturgi: kaum miskin, penyandang disabilitas, anak-anak, perempuan korban kekerasan, lansia, masyarakat adat, kelompok minoritas, serta mereka yang dianggap “bermasalah” oleh gereja.

Pokok pentingnya adalah perubahan cara pandang: dari “untuk” menjadi “bersama”, dari “berbicara tentang mereka” menjadi “mendengarkan mereka”, dan dari “objek pelayanan” menjadi “subjek liturgi.” Dengan demikian, gereja dipanggil bukan sekadar menyediakan pelayanan bagi kelompok terpinggirkan, tetapi membuka ruang agar mereka memiliki suara, pengalaman, iman, dan kontribusi dalam kehidupan gereja.

***

KNMTI juga menyajikan pengalaman-pengalaman di luar kelas. Untuk menyebut beberapa: peserta diberi ruang untuk berdiskusi, mendapatkan pajanan di luar kelas, menyusun liturgi bersama kelompok, mengunjungi Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Kota Kupang. Selain itu, peserta juga berkesempatan mengunjungi Dekranasda Kota Kupang dan Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Di hari terakhir, para peserta bersama kedua Project Officer menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang, disepakati dan akan ditindaklanjuti bersama. Baik di sekolah masing-masing, maupun kolaborasi lintas kampus, semua poin-poin yang disepakati dalam RTL, akan dikembangkan dan diaplikasikan oleh seluruh peserta KNMTI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *