Pada 24-26 Juni 2026 melalui Zoom Meeting dengan host STT Bethel Indonesia, Perkumpulan Sekolah-Sekolah Teologi di Indonesia (PERSETIA) melaksanakan Studi Institut Tahun 2026. Studi Institut, mengusung tema “Liturgi yang Kontekstual, Partisipatif, dan Transformatif dalam Konteks Menggereja di Indonesia”.
Kegiatan ini menghadirkan Pdt. Ester Widiasih Pudjo, Ph.D. (Dosen STFT Jakarta), Pdt. Jimmy Setiawan, MTS. (Pendiri WoW Ministry), dan Dr. Anggi Hasiholan (Dosen STT Bethel Indonesia) sebagai narasumber. Berlangsung selama tiga harI, kegiatan yang rutin diadakan oleh PERSETIA ini, selain menjadi forum akademik, diharapkan menjadi ruang kolaborasi setiap peserta yang, sebagian besar adalah para dosen-dosen di sekolah-sekolah teologi. Peserta juga diharapkan bisa saling belajar dengan keragaman tradisi yang ada.
Studi Institut dibuka dengan beberapa sambutan-sambutan. Mewakili host, Dr. Apin Militia Christi menyapa semua peserta yang hadir, dan menyatakan rasa terima kasih karena di tahun ini menjadi host Studi Institut. Ia, dalam sambutannya, juga menyatakan liturgi sebagai jantung kehidupan gereja. Liturgi dipahami bukan sekadar susunan tata ibadah atau pengulangan ritual, melainkan ruang pembentukan iman, tempat tubuh Kristus dibangun, serta wadah di mana gereja belajar membaca realitas sosial. Liturgi yang sejati, tandas Dr. Christi, harus melahirkan kesaksian, keadilan, belas kasih, dan transformasi hidup, sehingga ibadah tidak berhenti pada pengalaman religius sesaat—tetapi berlanjut menjadi tindakan nyata di tengah masyarakat.
Ketua PERSETIA, Pdt. Justitia Vox Dei Hattu, Th.D., dalam sambutan selanjutnya, menjelaskan bahwa tema “Liturgi Kontekstual, Partisipatif, dan Transformatif dalam Konteks Bergereja di Indonesia” beranjak dari respons terhadap berbagai tantangan bangsa dan gereja. Kekerasan, krisis ekologis, perkembangan teknologi, materialisme, korupsi, serta kesenjangan antargenerasi dipandang sebagai realitas yang tidak boleh diabaikan oleh pendidikan teologi. Dalam pada itu, liturgi dituntut hadir sebagai “laku-pikir” gereja yang relevan, membangun perdamaian, menghadirkan keadilan, dan tetap berpijak pada kehidupan nyata umat.
Pemaparan awal Hattu, selanjutnya dilengkapi dengan orientasi program yang disampaikan oleh Project Officer, Pdt. Arniyati Dangga Mesa, M.Th. Mesa menyampaikan bahwa Studi Institut bertujuan untuk memahami tantangan liturgi dalam konteks Indonesia, menelaah dasar-dasar biblisnya, menelusuri perkembangan sejarah liturgi, mengeksplorasi model-model liturgi kontekstual dan partisipatif , hingga memperkuat sinergi antara sekolah teologi, dan gereja-gereja. Seluruh proses pembelajaran, ucap Mesa, diarahkan tidak hanya menghasilkan pemahaman konseptual, tetapi juga luaran akademik berupa artikel ilmiah.
***
Di hari pertama, materi yang disampaikan oleh Dr. Anggi Maringan Hasiholan. Ia menegaskan bahwa ibadah adalah respons menyeluruh umat kepada Allah Tritunggal yang menyatakan diri, menebus, membentuk, dan mengutus umat-Nya. Karena itu, liturgi tidak boleh dipahami hanya sebagai tata ibadah maupun pengalaman emosional, tetapi sebagai perjumpaan yang mengintegrasikan iman, kehidupan, dan misi gereja.
Melalui penelusuran biblis, peserta diajak memahami bahwa liturgi berakar pada karya Allah sejak penciptaan hingga penggenapan Kerajaan Allah. Ibadah membentuk identitas umat, memelihara ingatan akan karya keselamatan, memperbarui perjanjian dengan Allah, menumbuhkan kekudusan, membangun solidaritas, serta menghadirkan keadilan di tengah dunia. Dengan demikian, ibadah bukan sekadar aktivitas gereja, melainkan cara hidup yang berpusat pada Kristus dan dikerjakan oleh Roh Kudus.
Pendalaman teologis kemudian memperkenalkan tiga dimensi utama ibadah, yaitu ortodoksi (iman yang benar), ortopati (afeksi yang benar), ortopraksi (tindakan yang benar). Ketiganya saling melengkapi untuk membentuk umat yang tidak hanya memahami ajaran, tetapi juga menghidupi Injil melalui karakter, relasi, dan tindakan nyata. Dengan lugas, sebagai seorang yang berasal dari tradisi Pentakostal, Hasiholan berargumen bahwa, “Ibadah, terutama bagi kaum Pentakostal, adalah pusat spiritualitas karena di dalamnya doktrin, praktik, tubuh, afeksi, pengalaman Allah, komunitas, dan misi dipertemukan dalam satu praktik liturgis yang hidup.”
Sebagai penutup, pemateri menegaskan bahwa liturgi yang kontekstual, partisipatif, dan transformatif harus selalu diuji oleh Injil. Liturgi yang sejati membawa umat semakin mengenal Allah, membentuk tubuh Kristus, mewariskan iman kepada generasi berikutnya, dan mengutus gereja menjadi saksi yang menghadirkan kasih, keadilan, serta pengharapan bagi dunia.
Sesi selanjutnya disampaikan oleh Dr. Ester Pujo Widiasi. Ia mengajak peserta memasuki pembahasan penting mengenai relasi antara liturgi dan teologi. Ia meletakkan dua hal: Liturgical Theology dan Theology of Liturgy. Liturgical Theology memandang liturgi sebagai sumber utama berteologi (locus theologicus), sebab dalam ibadah gereja tidak hanya berbicara tentang Allah, tetapi sungguh berbicara kepada Allah. Sebaliknya, Theology of Liturgy menjelaskan liturgi berdasarkan konstruksi teologi yang, telah dirumuskan gereja. Kedua pendekatan tersebut dipahami bukan untuk dipertentangkan, melainkan saling melengkapi dalam membangun pemahaman liturgi yang utuh.
Lebih jauh, Widiasih menegaskan bahwa liturgi merupakan teologia prima, yaitu tempat pertama di mana gereja berteologi melalui tindakan ibadah. Refleksi terhadap pengalaman ibadah yang dilakukan setelah perayaan berlangsung merupakan teologia secunda. Dengan demikian, pengalaman liturgis bukan sekadar penerapan doktrin, melainkan sumber pembentukan iman, identitas gereja, dan tindakan misioner. Widiasih juga dalam pemaparannya menyinggung gagasan lex orandi, lex credendi, “apa yang didoakan gereja membentuk apa yang dipercayai gereja.” Liturgi menjadi ruang di mana iman tidak hanya dipikirkan, tetapi juga dialami oleh tubuh, ingatan, dan seluruh kehidupan umat.
Pemateri terakhir adalah Pdt. Jimmy Setiawan, MTS., yang selama beberapa tahun memberi fokus pada ibadah, membuka pemaparannya dengan sebuah pernyataan mendasar. Ia menempatkan sudut pandang trinitaris sebagai pondasi utamanya. Pondasi inilah yang selanjutnya menuntunnya menandaskan bahwa di dalam ibadah, yang bekerja bukan terutama manusia dengan seluruh kesungguhannya, melainkan Roh Kudus yang membentuk, menyucikan, dan mengarahkan kehidupan orang percaya. Dalam pada itu, transformasi bukanlah hasil otomatis dari liturgi, melainkan buah dari karya Allah yang hadir di dalamnya.
Pembahasan kemudian berlanjut pada konsep formasi spiritual. Formasi dipahami sebagai proses yang berlangsung terus-menerus, bersifat holistik, komunal, dan berpusat pada Kristus. Tujuannya bukan sekadar pertumbuhan pribadi, melainkan pembentukan manusia yang semakin menyerupai Kristus demi kehidupan orang lain. Di dalam proses itu terdapat sinergi antara rahmat Allah dan respons manusia; Allah tetap menjadi penggerak utama, sementara manusia dipanggil untuk hidup dalam ketaatan.
Pemaparan Setiawan ini juga mengingatkan bahwa tujuan utama ibadah bukanlah perubahan diri, melainkan penyembahan kepada Allah. Transformasi justru hadir sebagai konsekuensi, bukan motivasi utama. Ketika manusia memusatkan pandangannya kepada kemuliaan Allah, hidupnya perlahan mengalami penataan ulang. Ibadah kehilangan maknanya apabila diperlakukan hanya sebagai alat untuk memperoleh manfaat pribadi. Sebaliknya, ibadah menemukan integritasnya ketika Allah kembali ditempatkan sebagai pusat, sementara perubahan manusia menjadi buah yang mengikuti.
Dalam kaitannya dengan formasi spiritual, ibadah membentuk tiga dimensi utama kehidupan Kristen: iman, pengharapan, dan kasih. Iman dipelihara karena ibadah terus-menerus menggeser berbagai “berhala” yang berusaha merebut pusat hati manusia, sekaligus meneguhkan kembali bahwa hanya Allah yang layak menjadi pusat kehidupan. Pengharapan dipulihkan melalui pengingatan akan karya penyelamatan Allah di masa lalu sekaligus janji-Nya atas masa depan. Adapun kasih diwujudkan ketika pola hidup yang dipelajari dalam liturgi diteruskan ke dalam kehidupan sehari-hari melalui pengampunan, pelayanan, doa, dan ketaatan kepada firman. Dengan demikian, ibadah tidak berhenti di altar, tetapi menjelma menjadi cara hidup.
Materi ini juga menekankan hubungan yang tak terpisahkan antara ibadah dan misi. Ibadah memiliki gerak ke dalam—mengarahkan manusia kepada Allah—sementara misi memiliki gerak ke luar—mengutus manusia kembali ke dunia. Keduanya bukan dua kegiatan yang berdiri sendiri, melainkan dua tarikan napas yang saling melengkapi. Semakin seseorang dibentuk dalam ibadah, semakin ia didorong untuk mengambil bagian dalam karya Allah menghadirkan damai sejahtera di tengah dunia.
Pada bagian akhir, materi mengajak peserta memahami bahwa transformasi spiritual bergantung pada kemampuan seseorang menemukan makna ibadah. Makna tersebut hadir dalam tiga lapis: makna yang melekat pada liturgi itu sendiri, makna yang dialami ketika ibadah berlangsung, dan makna baru yang ditemukan ketika seseorang kembali menjalani kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, pendidikan liturgi, partisipasi aktif jemaat, serta disiplin rohani menjadi unsur penting agar ibadah sungguh membentuk kehidupan, bukan hanya menjadi rutinitas keagamaan.
Pada kesempatan ini juga 9 pemakalah terpilih mempresentasikan artikelnya dalam 3 panel diskusi, yakni Bapak Putra Arliandy (STFT Jakarta), Bapak Seno Adhi Nugroho (STAK Marturia Yogyakarta), Ibu Vena Melinda Tiladuru (STT SAPPI), Ibu Amelia Kimberly Ann (STT Satyabhakti), Ibu Eirene K. Gulo (STT BNKP Sundermann), Ibu Irene Umbu Lolo (STT GKS), Bapak Yulianus Serang (Fakultas Teologi Uniera), Bapak I Gede Supradnyana (STT GKST), dan Bapak Sozawato Telaumbanua (STT BNKP Sundermann).
Secara keseluruhan, Studi Institut PERSETIA 2026 memperlihatkan bahwa pembelajaran liturgi tidak hanya untuk memperkaya pengetahuan akademik, tetapi juga membangun kesadaran bahwa ibadah memiliki daya membentuk cara gereja memandang dunia. Liturgi dipahami sebagai ruang perjumpaan antara Allah dan umat, tempat gereja belajar membaca tanda-tanda zaman, sekaligus sumber transformasi yang mendorong lahirnya praktik bergereja yang kontekstual, partisipatif, dan menghadirkan damai di tengah masyarakat. Melalui dialog lintas tradisi, kolaborasi akademik, dan komitmen terhadap publikasi ilmiah, kegiatan ini menjadi langkah nyata PERSETIA dalam memperkuat pendidikan teologi Indonesia agar tetap relevan dengan tantangan gereja dan kehidupan bangsa.
Studi Institut ditutup dengan Pleno dan Rencana Tindak Lanjut yang dipimpin oleh Project Officer. Penetapan rencana tindak lanjut, menjadi penanda bahwa kegiatan ini tidak berakhir begitu saja. Masih ada tugas dan tanggung jawab bersama yang, masih harus digumul-juangkan.












Leave a Reply