Berkolaborasi dengan Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta, Perkumpulan Sekolah-sekolah Teologi di Indonesia (PERSETIA), mengadakan Lokakarya Pegiat Liturgi dan Musik Gereja pada 10 Oktober 2026. Kegiatan ini adalah kelanjutan dari Studi Institut yang, bertujuan untuk menjangkau peserta yang lebih luas.
Mengusung tema “Liturgi yang Kontekstual, Partisipatif, dan Transformatif dalam Konteks Menggereja di Indonesia”, lokakarya ini menjadi ruang belajar bagi para pegiat liturgi, musik gereja, dosen teologi, dan warga gereja. Ini dibuktikan dengan 184 peserta yang mendaftar: 56 orang mengikuti secara tatap muka, dan 128 orang mengikuti secara tatap maya melalui Zoom Meeting.
Kegiatan diawali dengan ibadah pembukaan. Melalui bacaan Alkitab, nyanyian, doa, tarian, dan penyalaan lilin Adven, ibadah menghubungkan pengharapan akan terang Kristus dengan kenyataan ketidakadilan sosial dan kerusakan lingkungan. Khotbah disampaikan melalui panggung boneka. Doa syafaat turut membawa pergumulan sesama yang menderita, tertindas, dan terdampak oleh kerusakan lingkungan.
Pada sesi berikutnya, peserta mengikuti talk show bertajuk “Ibadah yang Merangkul”. Pdt. Hizkia Anugrah Gunawan, memandu sesi talk show ini, dan berbincang dengan Pdt. Ester P. Widiasih., sebagai narasumber. Sesi ini, membahas secara spesifik mengenai ibadah yang inklusif. Ibadah yang merangkul, terutama mereka yang selama ini terpinggirkan.
Setelah talk show usai, peserta mengikuti kelas peminatan. Ada tiga kelas peminatan yang dibuka. Sebelum mengikuti kegiatan ini, peserta sudah terlebih dahulu kelas peminatan mereka masing-masing. Dalam kelas ibadah kontekstual berperspektif sosial-ekologis, Pdt. Fitry Hanna Hutagalung membahas daya liturgi dalam membentuk identitas, kepekaan, dan solidaritas umat. Ibadah dapat memberi ruang bagi ratapan sekaligus harapan, merangkul mereka yang terpinggirkan, dan mengutus gereja untuk menghidupi dan memperjuangkan keadilan dalam masyarakat.
Di kelas yang sama, Putra Arliandy mengajak peserta memahami seluruh ciptaan sebagai bagian dari perhatian dan karya Allah. Ekoliturgi dapat diwujudkan melalui teks doa, nyanyian, bacaan Alkitab, simbol alam, dan gestur bersama. Unsur-unsur itu menolong umat mengakui kerusakan lingkungan sekaligus menanggapi panggilan untuk merawat ciptaan. Tidak hanya itu, kedua narasumber juga menunjukkan langkah-langkah praktis dalam ibadah, untuk mendaratkan pemaparan mereka sebelumnya.

Kelas ibadah intergenerasional bersama Pdt. Jimmy Setiawan menekankan bahwa setiap generasi berharga dan dapat berpartisipasi dalam ibadah. Bayi, anak-anak, remaja, orang dewasa, dan lanjut usia–menurut Pdt. Jimmy, bukan hanya sekadar hadir bersama dalam ibadah. Semuanya perlu saling belajar, melayani, dan membentuk kehidupan iman jemaat. Peserta juga diperkenalkan pada langkah penerapan yang mencakup pembentukan visi dan tim lintas usia, pendidikan jemaat, penjajakan konteks, pelaksanaan, serta evaluasi. Langkah-langkah praktis ini, secara khusus dibagikan oleh Pdt. Jimmy pada sesi kedua kelas peminatan.

Sementara itu, kelas peminatan nyanyian, tarian, dan simbol dalam ibadah memperluas pemahaman tentang keterlibatan umat. Kelas peminatan ini, dipandu oleh tiga orang. Pdt. Rahel S. Daulay memberi pendasaran bahwa nyanyian jemaat adalah tindakan iman bersama yang menyatukan umat dengan Allah dan sesama. Williams Bill Mailoa membahas simbol liturgis sebagai sarana yang membawa makna teologis dan membentuk ingatan serta identitas umat. Materi tarian liturgi, yang disampaikan oleh Santoso Sri Buwono. Ia mengajak peserta melihat gerak tubuh sebagai bagian dari doa dan partisipasi ibadah, bukan sekadar pertunjukan. Kelas peminatan ini juga memberikan langkah-langkah praktis yang bisa dilakukan oleh peserta.

Setelah kelas peminatan selesai, lokakarya ditutup dengan ibadah syukur. Dalam ibadah penutupan, peserta diberikan kesempatan menuliskan harapan-harapan mereka. Pun, dalam kesempatan itu peserta mengingat kembali pembelajaran hari itu dan diteguhkan untuk menghargai keberagaman, mewujudkan kepedulian kepada sesama dan bumi, serta membawa pengharapan ke dalam pelayanan dan kehidupan masing-masing.
Dengan terlaksananya lokakarya ini, besar harapan dari kegiatan ini muncul kesadaran bahwa liturgi perlu berakar pada iman sekaligus berhubungan erat dengan kehidupan. Teristimewa kehidupan yang lunyai dan mengalami begitu banyak sobekan-sobekan. Juga sudah saatnya, ibadah perlu dirancang bersama dan peka terhadap konteks. Maka pada akhirnya: ibadah dapat menjadi ruang pembentukan umat yang merangkul sesama, memperjuangkan keadilan, dan merawat seluruh ciptaan.












Leave a Reply