Pada 5-6 Oktober, Perkumpulan Sekolah-sekolah Teologi di Indonesia (PERSETIA), mengadakan coaching clinic kurikulum outcome-based education. Kegiatan ini, seperti tertuang pada kerangka acuan, memiliki dua tujuan. Pertama, peserta mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang paradigma dan prinsip kurikulum berbasis OBE, dan dapat menyusun kurikulum masing-masing prodi sesuai paradigma dan prinsip tersebut. Lalu, yang kedua: peserta menyepakati rencana strategis anggota PERSETIA, dalam menyusun dan mengimplementasikan Kurikulum berbasis OBE.
Kegiatan yang diadakan melalui zoom meeting ini, dihadiri oleh 149 peserta. Dengan menghadirkan Prof. Dr. Ir. Syamsul Arifin, M.T., selaku tim ahli kurikulum dan pembelajaran Kemendiktisaintek RI, tim ahli strategi dan sistem transformasi, Dr. Weldemina Yudit Tiwery, S.Si., M.Hum., Kasubdit Pendidikan cnggi Direktorat Pendidikan Kristen Ditjen Bimas Kristen Kemenag RI., dan Pdt. Tuhoni Telaumbanua, Ph.D., dosen STT BNKP Sundermann.
Prof. Arifin, dalam pemaparannya, menandaskan bahwa OBE bukan sekadar mengganti format dokumen kurikulum. Intinya adalah merancang pendidikan dengan berangkat dari kemampuan yang diharapkan dimiliki lulusan, lalu memastikan seluruh proses belajar membantu mahasiswa mencapainya. Dalam pada itu, tutur Prof. Arifin, perkuliahan, metode pembelajaran, dan penilaian perlu saling terhubung dan mengarah pada hasil yang sama.
Dr. Weldemina Yudit Tiwery, memberi penekanan bahwa perubahan itu dimulai dari evaluasi kurikulum dan masukan pemangku kepentingan. Program studi merumuskan profil lulusan dan CPL, menurunkannya menjadi bahan kajian dan mata kuliah, lalu menyusun CPMK, aktivitas belajar, dan asesmen. Alur ini membantu program studi memeriksa apakah setiap mata kuliah benar-benar berkontribusi pada kemampuan lulusan yang dituju, dan apakah pencapaiannya dapat dibuktikan. Dalam kesempatan ini, Dr. Weldemina, juga melakukan review secara langsung atas rancangan kurikulum STT JKI Salatiga.
Pdt. Tuhoni Telaumbanua, melengkapi pembahasan dengan isu pelaksanaan dan konteks kebijakan, termasuk Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) serta kebijakan penyusunan instrumen akreditasi. Ia juga melengkapi pembahasannya dari sudut pandang pengurus dan juga asesor. Pesan praktisnya: pengembangan OBE perlu memperhatikan bagaimana pengalaman dan capaian belajar diakui, serta bagaimana rancangan kurikulum didukung bukti yang dapat ditinjau.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini, juga membuka ruang untuk membincang rencana strategis di masa yang akan datang. Dari perbincangan dengan peserta di penghujung kegiatan, ada dua hal yang menjadi penekanan penting agar bisa dilakukan ke depan, yakni:
Pertama, PERSETIA dapat melakukan pendampingan langsung kepada sekolah-sekolah anggota yang belum memiliki kurikulum berbasis OBE. Lalu, yang kedua, PERSETIA mengakomodasi pelatihan penyusunan kurikulum berbasis OBE dalam program periode berikutnya.
Dengan terlaksananya kegiatan ini, besar harapan ke semua peserta dan sekolah-sekolah anggota PERSETIA, dapat terus memajukan pendidikan dan pemikiran teologi di Indonesia.




Leave a Reply