Kegiatan yang diikuti oleh 68 mahasiswa ini, dilaksanakan di STT Sriwijaya Palembang pada 27-31 Oktober 2025. STT Sriwijaya Palembang, yang menjadi tuan dan nyonya rumah, memusatkan kegiatan ini di dua tempat: Kampus A dan Kampus B Mereka. Kedua tempat ini, berjarak kurang lebih 500 meter.
Konsultasi Nasional Mahasiswa Teologi di Indonesia (selanjutnya KNMTI) 2025, memberi fokus pada tantangan pendampingan pastoral di era disrupsi yang, ditandai oleh pengembangan teknologi secara eksponensial, kompleksitas hidup, ketidakpastian, serta tantangan dan kesenjangan baru. Secara sederhana, era disrupsi adalah sebuah “guncangan besar.”
Kegiatan ini, seperti yang tertuang dalam kerangka acuan, berpijak dari kesadaran bahwa layanan konseling pastoral Kristen mengalami tantangan besar. Pelayanan yang dulunya berfokus pada bimbingan rohani, kunjungan jemaat, atau pendampingan saat krisis—kini dituntut untuk mampu menyesuaikan diri dengan realitas baru.
Gereja tidak lagi menjadi satu-satunya sumber bimbingan rohani bagi umat, karena berbagai sumber informasi dan pengaruh budaya dengan mudah diakses secara instan melalui media digital. Dalam pada itu, pelayanan pastoral dituntut bukan hanya sekadar hadir, tetapi juga relevan dan transformatif. Mahasiswa teologi memiliki peran penting dalam mendukung pelayanan ini, karena mereka kelak akan mengambil bagian sebagai pelayan umat, memegang peran strategis dalam merespons tantangan zaman ini.
Teologi pastoral menjadi kerangka penting bagi mahasiswa teologi untuk mengintegrasikan pemahaman teologis dengan kebutuhan nyata umat. Teologi pastoral bukan sekadar teori tentang pelayanan, melainkan refleksi iman yang konkret dalam konteks kehidupan sehari-hari, sebagaimana ditandaskan Don S. Browning bahwa teologi pastoral adalah “interaksi antara praktik pelayanan dan refleksi teologis yang kontekstual dan transformatif.”
Dengan demikian, rancangan kegiatan ini, selain menghadirkan ketiga pembicara yakni Pdt. Obertina Johanis, M.Th. (Direktur Women’s Crisis Center (WCC) Pasundan Durebang), Pdt. Dr. Apolos Dwi Kristantyo (Dosen STT Sriwijaya), dan Pdt. Indah Sriulina Ginting, M.Th., M.A. (Dosen STFT Jakarta)., juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berdiskusi, mempersentasikan makalah, dan eksposur ke lembaga layanan yang melakukan pendampingan kelompok rentan. Tujuannya adalah agar peserta KNMTI 2025 mampu secara kritis dan reflektis saat menggumuli tema ini.
Pendampingan dan Konseling Pastoral: dari To Do menuju To Be
Pendekatan pastoral kini bergerak dari paradigma “to do” menuju “to be”, dengan penekanan pada relasionalitas dan penciptaan makna bersama. Indah S. Ginting meletakkan pemahaman awal ini, sebagai trayektori penting dalam memahami pendampingan dan konseling pastoral. Sampai di sini, pendampingan dan konseling pastoral memandang pikiran dan relasi sebagai satu kesatuan yang saling membentuk. Dalam konteks ini, pelayanan pastoral, memberikan penekanan pada pesan, individu, dan konteks secara bersamaan.
Tiga bentuk pendampingan pastoral diuraikan oleh Ginting yang ia sadur dari Totok Wiryasaputra. Eksistensial, dalam artian dilakukan dalam komunitas dengan kepedulian naluriah. Tidak harus dilakukan oleh seorang ahli. Fungsional, yakni menggunakan keterampilan konseling tanpa menjadi konselor profesional. Lalu, profesional, dilakukan oleh konselor pastoral terlatih, yang memfasilitasi dua bentuk sebelumnya.

Era Disrupsi: Landasan Teologis dan Respons
Kontekstual Gereja Masa Kini.”
Ginting juga menawarkan sebuah sumbang pikir mengenai peralihan dari Cura Animarum (pemulihan jiwa) menuju Cura Personalis (pemulihan pribadi secara utuh), yang didasari empati, interpathy, dan communiopathy—kemampuan memahami pengalaman kolektif komunitas. Neurologi dan teologi dipadukan. Menurut Ginting, perpaduan ini, dapat menolong mahasiswa memahami kecenderungan manusia terhadap kecemasan dan keraguan yang berkepanjangan. Pendamping pastoral tidak menghindari hal tersebut, tetapi menolong individu mengelolanya secara sadar (mindful monitoring).
Akhirnya, peserta diajak memahami pentingnya respect dan witnessing—menjadi penyaksi tanpa menghakimi, hadir mendengarkan dengan hati terbuka, dan memberi ruang bagi ratapan sebagai bentuk iman yang menolak keputusasaan. Pendekatan ini, mengasumsikan bahwa pendampingan dan konseling pastoral bukan memperbaiki penderitaan, tetapi menemaninya secara jujur dan manusiawi dalam komunitas iman.
Pelayanan pastoral di era digital, dalam pemaparan Pdt. Dr. Apolos, dituntut untuk memahami generasi yang hidup di dalamnya—yakni Generasi Z, Alpha, dan yang baru muncul, Generasi Beta. Setiap generasi memiliki ciri, kebutuhan, serta bahasa komunikasi yang berbeda, sehingga gereja perlu menyesuaikan pola pelayanan dengan konteks zaman.
Pendampingan pastoral secara umum diartikan sebagai pelayanan mendampingi umat secara spiritual dan emosional, sementara di era digital pengertiannya diperluas menjadi pelayanan yang menggunakan pendekatan, bahasa, dan media relevan dengan dunia digital. Konseling pastoral juga mengalami pergeseran dari sekadar pemberian nasihat menjadi proses relasional yang berakar pada iman dan konteks teknologi masa kini.

Pelayanan yang efektif perlu memanfaatkan platform digital—media sosial, podcast, video, atau live streaming—dengan bahasa yang ringkas, kreatif, dan mudah dipahami. Pendekatan ini tidak menggantikan tatap muka, melainkan melengkapinya agar pelayanan menjangkau lebih banyak orang.
Bentuk pendampingan dan konseling pastoral yang diusulkan oleh Apoolos mencakup; pendampingan kelompok melalui mentoring. Pendekatan seimbang antara interaksi digital dan tatap muka. Fokus pada pertumbuhan spiritual dan emosional, bukan sekadar penyelesaian masalah. Integrasi prinsip psikologi modern seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dengan fondasi iman. Berpusat pada Allah sebagai sumber hikmat dan kekuatan pastoral.
Implikasinya, gereja dan pelayan pastoral harus membantu generasi digital menjaga integritas dalam ruang daring, menghadapi krisis iman dan identitas, serta membangun komunitas iman yang suportif di dunia digital.
Kesimpulannya, pendampingan dan konseling pastoral di era digital harus dinamis, kontekstual, dan spiritual—memadukan teknologi, empati, dan teologi agar tetap relevan dan memuliakan Allah di tengah generasi digital yang terus berkembang.
Di tengah derasnya arus perubahan, generasi muda menghadapi krisis makna yang sunyi: kelelahan, tekanan, dan kesepian eksistensial. Data Bilangan Research Centre mencatat, sebagian anak muda Kristen bahkan pernah berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Angka-angka itu memantulkan jeritan yang tak terdengar—bahwa di balik layar ponsel dan senyum media sosial, banyak jiwa sedang rapuh mencari pegangan. Obertina M. Johanis membuka presentasinya dengan temuan-temuan ini.
Selanjutnya, Obertina M. Johanis menawarkan sebuah gagasan yang ia namai sebagai stay another day—dengan membangun resiliensi spiritual: kemampuan menemukan harapan dan makna melalui relasi dengan Tuhan dan sesama. Resiliensi itu, menurut Johanis, tumbuh dari tekad, ketahanan, adaptabilitas, dan kemampuan pulih setelah mengalami sobekan-sobekan hidup. Ia berakar pada iman yang diwujudkan dalam disiplin rohani, penghargaan terhadap diri, pengenalan diri, regulasi emosi, dan keberanian menghadapi masalah secara kreatif.

Namun, keteguhan personal tak cukup tanpa dukungan komunal. Gereja dan komunitas dipanggil menjadi komunitas adaptif: lentur terhadap perubahan, terbuka, partisipatif, dan solider. Di sinilah mahasiswa teologi memiliki peran penting sebagai pendamping sebaya—teman sejalan yang mendengar, bukan menghakimi.
Melalui pendekatan Dukungan Psikologis Awal (DPA), pendamping diajak “melihat, mendengar, dan menghubungkan” korban krisis dengan sumber daya yang menenangkan. Tidak dengan nasihat, melainkan dengan empati, kehadiran, dan bahasa sederhana yang menyalakan kembali rasa aman dan harapan.
Namun penolong pun perlu self-care—menjaga diri dari kelelahan empati, agar tetap mampu memberi dengan hati yang utuh. Secara sederhana, hal ini mengandaikan bahwa setiap orang bisa menolong, cukup dengan hati yang peduli dan kesediaan hadir. Di dunia yang cepat berubah, panggilan iman juga adalah soal bertahan — dan membantu orang lain untuk stay another day.
***
Setiap sesi yang disampaikan oleh ketiga narasumber berakhir, peserta KNMTI 2025 melakukan diskusi kelompok. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan terkait dengan materi-materi yang telah disampaikan oleh ketiga narasumber. Tujuannya adalah agar peserta bisa mendalami dan mengembangkan gagasan-gagasan secara lebih konstruktif. Dari diskusi inilah, peserta KNMTI bisa saling menawarkan ide, dan mendengarkan ide dari rekan sekelompok.
***
Selain ketiga narasumber, peserta KNMTI juga berkesempatan mempresentasikan hasil penelitian dan tulisan mereka. Sebelum dipresentasikan, tulisan-tulisan dari peserta KNMTI melalui tahapan seleksi. Maka diperoleh tiga judul makalah yang, atas penilaian juri, memiliki nilai terbaik. Prayveen Renalchris Uka dan Brayen Febrihard Guampe (STT GKST Tentena), mempresentasikan Mpeoandi Sebagai Pendekatan Konseling Budaya pada Perilaku Judi Online Masyarakat Mori. Christophel Van Harling dan Maria Elen Laun (STT GPI Papua), berksempatan untuk mempresentasikan artikel mereka yang berjudul Ketika Iman Berhadapan dengan Algoritma: Pastoral Algoritmik dan Pencarian Makna Hidup dalam Konteks GPI Papua. Kemudian, tulisan yang berjudul Model Pastoral Care Integratif: Spiritual Crisis Intervention untuk Pemulihan Krisis Identitas Mahasiswa Gen-Z di Era Disrupsi, disampaikan oleh James Andronikus Theodorus Fau dan Wisna Sari Zalukhu dari Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer, Tanjung Enim.
KNMTI 2025, juga memberikan perhatian pada ruang-ruang belajar praktikal dua arah. Panti Wherda Sumarah Palembang, menjadi tempat bagi peserta KNMTI 2025 untuk bisa belajar dan melakukan pendampingan singkat bagi kurang lebih 30 orang lanjut usia yang tinggal di sana. Mahasiswa dibagi dalam tujuh kelompok. Setiap kelompok, kemudian mendampingi dan berbagi cerita dengan dua hingga tiga orang lanjut usia.

Setelah dari Panti Wherda Sumarah, peserta KNMTI juga berkesempatan untuk melihat Jembatan Ampera. Menikmati kuliner khas Palembang, sambil mengabadikan beberapa foto. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan malam budaya. Semua peserta KNMTI, berkesempatan untuk menampilkan tarian, nyanyian, puisi, dll., yang dekat dengan daerah di mana mereka tinggal atau berasal.
KNMTI 2025 ditutup pada tanggal 31 Oktober 2025, setelah Pleno dan Rencana Tindak Lanjut selesai digelar. Dengan selesainya KNMTI 2025, semua peserta kembali ke sekolah masing-masing, dengan harapan dapat menindaklanjuti apa yang mereka dapat di sekolah masing-masing. KNMTI di tahun ini, juga sekaligus menjadi perayaan 62 tahun PERSETIA dalam gumul-juangnya memajukan pendidikan dan pemikiran teologi di Indonesia.

Be the first to comment