Studi Institut Eklesiologi GPI

Studi Institut Eklesiologi GPI bekerjasama dengan PERSETIA telah terlaksana dengan baik pada tanggal 14-17 September  2016, di GPIB Jemaat Pniel, Jl.H. Samanhudi No.12 Pasar Baru, Jakarta  Pusat. Kehadiran Gereja Protestan di Indonesia (GPI) di bumi Nusantara berawal dari ibadah pertama yang menggunakan Tata Ibadah Protestan di Benteng Victoria Ambon,  Maluku sejak 27 Februari 1605. Rentangan waktu 411  tahun GPI berusaha memaknai panggilan pengutusannya di Indonesia ini dalam rangka menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah dan pemerintahan-Nya melalui Pemberitaan, pelayanan, kesaksiaan dan memelihara persekutuan sebagai Gereja bersaudara.

Fakta sejarah membuktikan bahwa realitas geografis Indonesia, kedewasaan warga gereja dan pemimpin umat,  kebutuhan adanya intensitas pelayanan dan tuntutan pengembangan teologi kontekstual mendorong adanya kemandirian wilayah pelayanan dalam lingkup GPI. Fakta sejarah ini tidak sekedar dituturkan secara kronologis (peristiwa, waktu, tempat dan pelaku sejarah), tetapi harus dikaji secara komprihensif sehingga tidak kehilangan esensi dari setiap peristiwa terebut, dan setiap generasi tidak pernah akan mengabaikan fakta sejarah dan pemaknaan teologisnya. Setiap generasi gereja apalagi pemimpin gereja kiranya selalu melakukan analisis tentang isu-isu penting yang muncul dalam konteks berteologi gereja dalam pengambilan keputusan teologis dan memengaruhi paham  eklesiologi gereja. Analisis dan tafsir sejarah dan teologis ini kiranya mampu memberi pencerahan tentang apa yang penting di masa lalu dan apa yang tidak signifikan lagi di masa sekarang.

Pemahaman teologi dan gambaran-gambaran itu secara operasional ingin mengungkapkan  kesatuan yang indah dan multi fungsi. Dalam perkembangannya sampai saat ini, GPI mulai memandirikan empat Gereja secara berturut-turut; GMIM, GPM, GMIT, dan GPIB. Kemudian enam gereja bagian hasil pekabaran injil oleh Gereja Bagian Mandiri yakni: GPID, GPIBT, GPIG, GKLB, GPI Papua, GPIBK. Kemudian 2 gereja yang menyatakan diri bergabung dengan GPI; IECC dan GERMITA. Tidak dapat dipungkiri realitas ini berdampak pada dinamika internal Sinode gereja anggota dalam memaknai, keesaaan dan kebersamaan sebagai gereja saudara, dari generasi ke generasi gereja.

Metode yang dipakai dalam studi ini adalah adalah kajian kajian historis-teologis-eklesiologis, sharing pemahaman eklesiologi Gereja Bagian Mandiri, pengalaman bergereja dari GBM-GBM, presentasi narasumber, diskusi pleno dan kelompok. Proses ini bermuara pada perumusan pokok-pokok pikiran tentang eklesiologi GPI dalam konteks Gereja Bagian Mandiri yang memberi dasar dan arah pada kehidupan bersama sebagai Gereja Bersaudara dalam  lingkup GPI. Karena itu, Garis Besar Program  GPI yang diputukan pada Sidang Sinode Am GPI tahun 2015  di GPID jemaat Sola Gratia – Palu dan kemudian Sidang Majelis Sinode Am GPI Tahun 2015 di GPIB Jemaat Paulus Jakarta, telah menetapkan untuk mengadakan kegiatan Studi Institut Eklesiologi, bekerjasama dengan lembaga terkait yang memiliki kompetansi untuk itu yaitu Perhimpunan Sekolah-Sekolah Teologi di Indoneia (PERSETIA) dalam rangka penyelenggaraan kegiatan ini.

Studi Institut Eklesiologi GPI ini dirancang dalam bentuk kajian historis-teologis-eklesiologis dalam konteks yang dipahami serta dianut oleh 12 Gereja Bagian Mandiri (GBM) GPI dalam perkembangannya sejak kemandirian GBM dan sejak bergabungnya dengan GPI.  Melalui studi gereja anggota GPI dapat memahami dan merumuskan model atau bentuk eklesiologi di semua anggota GBM dalam GPI.

 

Narasumber

  1. Keynote speaker Pdt. Dr. Liesje SUMAMPOUW (Ketua Umum Majelis Sinode GPI).
  2. Dr. Semuel B. HAKH (Ketua Badan Penasihat GPI)

Pdt. A. H LOWING, M. Si,  dengan pokok bahasan: Eklesiologi GPI : Kajian Historis.

  1. Prof. Dr. E. G SINGGIH (GPIB) dengan pokok bahasan: Perspektif Sebagai Seorang Teolog, tentang GPI diantara Gereja – gereja dan di Indonesia.
  2. Dr. Eben Nuban Timo, (Dosen STT Duta Wacana), Kontekstualisasi Teologi.
  3. Dr. Yusak SOLEIMAN, Ph.D (Persetia/STT Jakarta) dengan pokok bahasan: Mengevaluasi kehadiran gereja dalam konteks Indonesia (Misioner atau Demisioner?) : Kajian Historis Teologis.
  4. 12 Ketua Sinode  GBM dengan pokok bahasan : Perkembangan Pemahaman Eklesiologi GBM dalam Tata Gereja sejak Tata Gereja Pertama sampai dengan sekarang.

Kiranya Studi Institut ini boleh membawa pencerahan eklesiologis bagi GPI dan GBM-GBMnya dan kiranya kerjasama GPI dan PERSETIA tetap terjalin dengan baik di masa depan demi kemajuan pendidikan teologi dan kemajuan pelayanan gereja.

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*